Inilah 4 orang yang dijauhkan dari rahmat Allah.

Inilah 4 orang yang dimurkai Allah.

Inilah 4 orang yang dilaknati Allah.

Siapakah mereka?

Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah berkata:

كُنْتُ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيْكَ قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيَّ شَيْئًا يَكْتُمُهُ النَّاسَ غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ حَدَّثَنِي بِكَلِمَاتٍ أَرْبَعٍ قَالَ فَقَالَ مَا هُنَّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

“Aku berada di samping Ali bin Abi Thalib lalu datanglah seseorang seraya berkata, ‘Apa yang pernah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- rahasiakan untukmu? ” Ali pun marah lalu berkata, ‘Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- tidak pernah merahasiakan kepadaku sesuatu yang tidak beliau sampaikan kepada manusia. Hanya saja beliau pernah mengabarkanku tentang empat perkara. “

Laki-laki itu berkata, “Apa itu wahai Amirul Mukminin? ” Ali pun menjawab, “Rasulullah bersabda, ‘Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu kepada selain Allah, Allah melaknat orang yang melindungi muhdits dan Allah melaknat orang yang mengubah tanda batas tanah. ” (HR. Muslim no. 3657 Maktabah Syamilah)

Arti kalimat:

Berkata Imam An-Nawawi:

وَأَمَّا الْمُحْدِث – بِكَسْرِ الدَّال – فَهُوَ مَنْ يَأْتِي بِفَسَادٍ فِي الْأَرْض

“Adapun al-Muhdits-dengan dal yang dikasrahkan-adalah orang yang membawa kerusakan di muka bumi. “(Syarh Shahih Muslim juz 6 hal. 475 Maktabah Syamilah)

Apa maksud dari laknat?

Berkata Imam An-Nawawi:

فَإِنَّهُ فِي اللُّغَة الْإِبْعَاد وَالطَّرْد ، وَفِي الشَّرْع الْإِبْعَاد مِنْ رَحْمَة اللَّه تَعَالَى

“Maksud dari laknat secara bahasa artinya menjauhkan dan mengusir. Sedangkan menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah ta’ala. ” (Syarh Shahih Muslim juz 1 hal. 176 Maktabah Syamilah)

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadits di atas, di antaranya:

1. Terlarangnya melaknat kedua orang tua serta terlaknatnya orang yang melakukan itu.

Lantas, apa maksud melaknat kedua orang tua? Dalam Shahih Bukhari no. 5516 dan Shahih Muslim no. 130 Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash bercerita bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sesungguhnya termasuk dari dosa-dosa paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya. Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang tuanya? ‘ Beliau pun menjawab, “(Ada yaitu) seseorang memaki ayah orang lain. Lalu orang itu pun memaki ayahnya dan juga ibunya. “

Orang yang memaki serta melaknat ayah orang lain teranggap sebagai orang yang melaknat serta mencela orangtuanya sendiri. Mengapa demikian? Sebab, dengan perbuatannya tersebut ada kemungkinan orang lain akan menghina dan mencela orangtuanya sebagai bentuk pembalasan. Makanya wajarlah jika islam melarang perbuatan demikian dan mengategorikannya sebagai dosa besar.

2. Terlarangnya menyembelih sesuatu kepada selain Allah serta terlaknatnya orang yang melakukan itu.

Berkata Imam An-Nawawi:

وَأَمَّا الذَّبْح لِغَيْرِ اللَّه فَالْمُرَاد بِهِ أَنْ يَذْبَح بِاسْمِ غَيْر اللَّه تَعَالَى كَمَنْ ذَبَحَ لِلصَّنَمِ أَوْ الصَّلِيب أَوْ لِمُوسَى أَوْ لِعِيسَى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِمَا أَوْ لِلْكَعْبَةِ وَنَحْو ذَلِكَ ، فَكُلّ هَذَا حَرَام ، وَلَا تَحِلّ هَذِهِ الذَّبِيحَة ، سَوَاء كَانَ الذَّابِح مُسْلِمًا أَوْ نَصْرَانِيًّا أَوْ يَهُودِيًّا ، نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيّ ، وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابنَا ، فَإِنْ قَصَدَ مَعَ ذَلِكَ تَعْظِيم الْمَذْبُوح لَهُ غَيْر اللَّه تَعَالَى وَالْعِبَادَة لَهُ كَانَ ذَلِكَ كُفْرًا ، فَإِنْ كَانَ الذَّابِح مُسْلِمًا قَبْل ذَلِكَ صَارَ بِالذَّبْحِ مُرْتَدًّا

“Adapun menyembelih untuk selain Allah, maksudnya yaitu menyembelih dengan nama selain Allah ta’ala seperti seseorang yang menyembelih untuk patung, atau salib atau Musa atau Isa atau Kabah dan yang semisalnya. Seluruhnya haram. Dan sembelihan tadi tidak halal, baik yang menyembelih adalah seorang muslim atau seorang Nashrani atau Yahudi. Demikian Imam Asy-Syafi’I menyebutkan itu dan disepakati oleh para sahabat kami (Asy-Syafi’iyyah).

Jika bersamaan dengan penyembelihan tadi meniatkan pengagungan terhadap orang yang untuknya sembelihan dipersembahkan dan juga beribadah untuknya, maka itu adalah kekufuran. Jika yang menyembelih itu sebelumnya adalah seorang muslim, dengan sebab penyembelihan tersebut menjadi murtadlah ia. ” (Syarh Shahih Muslim juz 6 hal. 475)

Kalau memang perbuatan ini mengundang laknat Allah, masihkah kita mau menyembelih hewan tertentu untuk ‘penunggu’ rumah, “Ratu Laut Selatan” dan yang semisalnya?

3. Terlarangnya melindungi pelaku kerusakan di muka bumi serta terlaknatnya orang yang melakukan itu.

Dan kerusakan di sini mencakup perkara dunia maupun agama.

Kalau memang perbuatan ini mengundang kemurkaan Allah, akankah ada yang sudi melindungi pelaku kriminal, koruptor, pencuri dan pembunuh?

Akankah ada pula orang yang bersedia melindungi penyebar kesesatan dan kekufuran?

4. Terlarangnya mengubah alamat dan batas-batas tanah serta terlaknatnya orang yang melakukan itu.

Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنْ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

“Siapa yang mengambil tanah milik orang lain secara zalim, maka akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi’. ” (HR. Bukhari no. 2273 dan Muslim no. 3025 Maktabah Syamilah)

Kalau mengambil sejengkal saja sudah sedemikian beratnya, apalagi jika mengambil berhektar-hektar tanah orang lain!

5. Bantahan bagi Syiah Rafidhah yang menyatakan bahwa Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- pernah mewasiatkan kepemimpinan kepada Ali sepeninggal beliau.

Berkata Imam An-Nawawi:

قَوْله : (( إِنَّ عَلِيًّا غَضِبَ حِين قَالَ لَهُ رَجُل : مَا كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرّ إِلَيْك ؟ )) إِلَى آخِره..

فِيهِ إِبْطَال مَا تَزْعُمهُ الرَّافِضَة وَالشِّيعَة وَالْإِمَامِيَّة مِنْ الْوَصِيَّة إِلَى عَلِيّ وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ اِخْتِرَاعَاتهمْ.

“Perkataannya bahwa Ali marah tatkala seseorang berkata kepadanya: ‘Apa yang pernah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ rahasiakan untukmu? ‘ sampai akhir perkataannya, membatalkan klaim Ar-Rafidhah dan Syiah Imamiyah tentang adanya wasiat (kepemimpinan) untuk Ali dan berbagai kedustaan mereka lainnya. ” (Syarh Shahih Muslim juz 6 hal. 475)

Walhamdulillah..

Penulis: Abullah Imam,lc.