BERSYUKUR DI HARI RAYA IEDUL FITRI

Khutbah-Jumat
(Ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ عِيْدًا يَذْكُرُوْنَهُ فِيْهِ، وَيَشْكُرُوْنَهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ يَسْتَوِي عِنْدَهُ مَا فِيْ سِرِّ الْعَبْدِ وَإِعْلاَنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْحَقِّ وَتِبْيَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  yang memiliki nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang sempurna. Puji dan syukur kita panjatkan kepada-Nya atas kemudahan agama yang telah dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali hanya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  semata, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti jalannya.

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh,

Marilah kita senantiasa bertakwa dan bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Karena, dengan sebab pertolongan-Nya kita semua bisa menjumpai seluruh hari di bulan puasa. Mudah-mudahan amal ibadah yang telah kita kerjakan di bulan yang penuh keutamaan tersebut diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Dan mudah-mudahan seluruh kesalahan serta kekurangan yang kita lakukan di bulan yang mulia tersebut diampuni oleh-Nya.

Saudara-saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh,

Hari ini adalah hari yang penuh kebahagiaan bagi kaum mukminin. Betapa tidak. Kaum mukminin telah melewati bulan yang Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  istimewakan. Kita juga telah dimudahkan oleh-Nya dalam mengisi hari-hari di bulan tersebut dengan berbagai bentuk ketaatan yang disyariatkan oleh-Nya. Kaum mukminin telah diberi taufiq oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  untuk meraih berbagai keutamaan yang telah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  curahkan di bulan tersebut. Karena itulah, kaum mukminin pada hari ini berbahagia dan bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Bukan berbahagia karena semata-mata baju baru yang dipakainya. Bukan berbahagia karena beraneka ragam makanan dan minuman yang ada di hadapannya. Kaum mukminin bukanlah orang-orang yang berbangga karena dunia yang telah diperolehnya. Akan tetapi mereka bangga dan bahagia karena pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  yang dikaruniakan kepadanya, sehingga bisa menjalankan berbagai amal ketaatan selama hari-hari yang dilaluinya di bulan Ramadhan. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman :

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” (Yunus: 58)

Hadirin rohimakumulloh,

Hari ini adalah hari untuk bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dan berdzikir kepada-Nya. Sekaligus hari ini adalah hari untuk makan dan minum. Kaum muslimin dilarang berpuasa pada hari yang penuh kegembiraan ini. Berpuasa pada hari ini berarti telah menyelisihi syariat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Adapun bagi kaum muslimin yang hendak berpuasa 6 hari di bulan Syawwal, maka baru bisa dilakukan setelah masuk pada hari yang kedua dan seterusnya. Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Kaum muslimin rohimakumulloh,

Perlu diketahui, hari raya bukanlah hari untuk berfoya-foya dengan menghambur-hamburkan harta yang tidak pada tempatnya. Bukan pula sebagai hari untuk menikmati hiburan-hiburan yang dipenuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat. Berhari raya bagi kaum muslimin bukanlah saat untuk berhura-hura dengan membanggakan dunia dan menyombongkan diri, sebagaimana yang dilalukan oleh orang-orang kafir dalam mengisi hari raya mereka. Hari raya kaum muslimin adalah saat untuk berbahagia dan bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dengan menjalankan berbagai ketaatan.

Di antaranya, kaum muslimin mengeluarkan zakat fitrah pada hari ini sebelum menjalankan shalat ‘Ied, meskipun boleh juga untuk mengeluarkannya dua atau tiga hari sebelumnya. Selanjutnya, pada hari ini pula kaum muslimin keluar dari rumahnya masing-masing sembari bertakbir menuju ke tanah lapang untuk mengerjakan shalat ied, setelah sebelumnya disunnahkan bagi mereka untuk mandi, memakai wewangian serta pakaian yang bagus dan makan sebelum mendatangi shalat. Shalat ‘Ied ini lebih utama dilakukan di tanah lapang, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassallam. Kemudian disunnahkan pula bagi kaum muslimin ketika pulang menuju ke rumah setelah selasai dari shalat ied untuk melalui jalan lain (yang berbeda), bukan jalan yang dilaluinya saat berangkat menuju tanah lapang.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Alloh Subhanahu Wa Ta’ala ,

Di antara kebiasaan yang dilakukan oleh kaum muslimin adalah saling berjabat tangan dan mengucapkan doa serta ucapan selamat hari raya. Kebiasaan tersebut, sebagaimana diterangkan oleh sebagian ulama adalah kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat. Kebiasaan ini justru bisa menumbuhkan rasa saling mencintai dan menghilangkan rasa permusuhan di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, kebiasaan tersebut boleh dilakukan. Hanya saja, tidak boleh bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk saling berjabat tangan. Adapun kebiasaan mengkhususkan hari raya untuk melakukan ziarah ke kubur, maka hal ini tidaklah ada dasarnya baik di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang shahih. Oleh karena itu, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan hari ini sebagai saat untuk berziarah kubur.

Hadirin rohimakumulloh,

Pada hari raya ini, marilah kita merenungkan, betapa banyak saudara-saudara kita kaum muslimin yang pada tahun-tahun yang lalu ikut shalat ied dan ikut menikmati hari raya bersama kita. Namun saat ini mereka tidak berada lagi di muka bumi ini. Mereka telah berpindah dari tempat beramal di kehidupan dunia yang sesaat ini, menuju ke tempat pembalasan amalan di kehidupan yang abadi di akhirat. Mereka meninggalkan keluarga, rumah, dan harta mereka. Tidak ada yang mereka bawa untuk kehidupan akhiratnya kecuali amalan-amalan yang telah dikerjakan saat di dunia. Harta, anak, jabatan, dan lain-lainnya tidak bisa menghalangi datangnya kematian. Maka janganlah seseorang tertipu dengan gemerlapnya dunia. Pakaian yang indah, kendaraan yang mewah, dan perhiasan dunia yang lainnya tidaklah menjadi jaminan bahwa dirinya akan menjadi orang yang berbahagia. Semua itu, kalaulah tidak menjadikan dirinya menjadi orang yang bertakwa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , maka tidaklah berguna. Karena, sebaik-baik yang kita pakai adalah pakaian takwa. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (٢٦)

“Wahai anak Adam (yaitu umat manusia), sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Namun pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, agar mereka selalu ingat.” (Al-A’raf: 26)

Hadirin raohimakumulloh,

Oleh karena itu, setiap muslim semestinya senantiasa mengingat bahwa harta, keluarga, dan seluruh perhiasan dunia yang sekarang bersamanya pasti akan berpisah dengannya. Setiap orang juga harus mengingat bahwa tubuhnya akan ditimbun dan dikubur dalam tanah serta akan dimakan oleh binatang-binatang yang ada di dalamnya. Maka, akankah seorang muslim menjadikan hari rayanya untuk berhura-hura serta membuang-buang harta untuk acara-acara yang bercampur dengan maksiat?

Sungguh, seandainya seseorang tahu bahwa ibadah yang dia lakukan di bulan Ramadhan diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , maka semestinya dia bersyukur dan bukan berhura-hura. Karena berhura-hura adalah akhlak orang-orang kafir dalam merayakan hari rayanya. Adapun kalau dirinya tahu bahwa amalannya tidak diterima, maka bagaimana dirinya sanggup untuk berhura-hura pada hari ini?

Kaum muslimin yang semoga dirohmati Alloh Subhanahu Wa Ta’ala ,

Ketahuilah, bahwa kita telah dikaruniai nikmat yang paling besar, yaitu nikmat Islam. Nikmat yang tidak tertandingi oleh seluruh nikmat-nikmat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  lainnya yang besar. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat yang paling besar ini. Yaitu dengan senantiasa mempelajari agama Islam melalui ahlinya agar kita menjadi orang-orang yang paham terhadap ajaran Islam dan bisa menjalankan agama dengan benar. Karena sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam, bahwa pahamnya seseorang terhadap agamanya menunjukkan bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  menginginkan kebaikan untuk dirinya.

Hadirin rohimakumulloh,

Ketahuilah, bahwa Islam bukanlah sekadar sebuah pengakuan semata tanpa ada pengamalan terhadap ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Namun Islam adalah agama yang mewajibkan pemeluknya untuk beribadah kepada Al-Khaliq, yaitu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  sebagai Sang Pencipta. Islam juga mewajibkan pemeluknya berbuat baik kepada makhluk yang diciptakan-Nya. Persaksian seorang muslim terhadap kalimat La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah mengandung konsekuensi yang mengharuskan orang yang mengucapkannya untuk memurnikan ibadah hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  tanpa ada syirik sedikitpun, serta beribadah hanya dengan syariat yang dibawa Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam tanpa mengada-adakan ibadah baru atau bid’ah yang tidak pernah disyariatkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala .

Oleh karena itu, seorang muslim harus menjadi orang yang bertauhid, yaitu orang yang beribadah hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dan meninggalkan seluruh perbuatan syirik. Karena dengan tauhid inilah, amalan ketaatan yang lainnya akan bernilai ibadah. Adapun tanpa tauhid, maka ibadah sebesar dan sebanyak apapun tidak akan bernilai di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Sebagaimana dalam firman-Nya:

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٨٨)

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

Sebanyak dan sebesar apapun ibadah yang dilakukan oleh seseorang –meskipun dikerjakan dengan ikhlas– tidak akan diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , bila amalan tersebut tidak sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasul-Nya Sholallohu ‘Alaihi Wassallam. Hal ini sebagaimana dalam sabda beliau Sholallohu ‘Alaihi Wassallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin rohimakumulloh,

Disamping itu, seorang muslim juga harus menundukkan jiwanya untuk menjalankan ketaatan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Di antaranya adalah kewajiban yang paling besar setelah menjalankan dua kalimat syahadat yaitu kewajiban shalat lima waktu serta menjalankan rukun Islam yang lainnya. Begitupula, dia pun menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya, seperti bertaubat, menunaikan amanah, jujur, dan kewajiban lainnya serta menjauhi larangan-larangan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  seperti berkhianat, berdusta, ghibah, namimah, memakai pakaian yang menampakkan aurat, dan kemaksiatan lainnya.

Hadirin rohimakumulloh,

Disamping menjalankan kewajibannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , agama Islam juga memerintahkan kepada pemeluknya untuk berbuat baik kepada orang lain. Islam memerintahkan pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik kepada orangtuanya, kerabatnya, tetangganya, fakir miskin, anak yatim, dan yang lainnya. Oleh karena itu, ketika seorang muslim berbicara dengan orangtuanya, dia akan berkata dengan kata-kata yang baik dan tidak menyakitkan keduanya. Begitupula, dia membantu kebutuhan-kebutuhan mereka dan tidak menyombongkan diri di hadapan kedua orangtuanya.

Seorang muslim juga sosok yang menyambung hubungan dengan kerabatnya atau yang diistilahkan dengan silaturahim. Dia juga orang yang berbuat baik dan tidak menyakiti tetangganya. Selanjutnya, agama Islam juga memerintahkan kepada para suami untuk berbuat baik kepada istrinya, sebagaimana disebutkan di dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala :

 ….. وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (١٩)

“Dan bergaullah (kalian wahai suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)

Sebaliknya, seorang istri juga diperintahkan untuk menaati dan berkhidmat kepada suaminya, dengan cara membantu keperluan-keperluan suaminya. Karena dia tahu bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  telah menetapkan suaminya sebagai pemimpin bagi dirinya. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ ……..(٣٤)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (An-Nisa: 34)

Hadirin rohimakumulloh,

Agama Islam juga melarang pemeluknya untuk menyakiti harta, jiwa, dan kehormatan saudaranya. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  menyebutkan di dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)

Bahkan meskipun kaum muslimin membenci orang-orang kafir karena orang-orang kafir adalah orang-orang yang dibenci oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , mereka tidaklah diperbolehkan untuk berbuat zalim kepada orang-orang kafir. Sehingga apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saat-saat ini, dengan melakukan aksi bom bunuh diri di beberapa tempat, meskipun dengan alasan berjihad melawan orang kafir, adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan syariat Islam. Karena perbuatan tersebut pada dasarnya adalah perbuatan bunuh diri yang merupakan salah satu dosa yang sangat besar. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wasallam :

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa dengan sesuatu (yang digunakan untuk membunuh dirinya di dunia tersebut) pada hari kiamat.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Disamping itu, aksi bom bunuh diri tersebut juga melanggar syariat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , yang melarang hamba-Nya untuk membunuh jiwa yang diharamkan-Nya. Di antara jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, selain jiwa kaum muslimin, adalah jiwa orang-orang kafir yang telah mendapat jaminan keamanan atau melakukan perjanjian untuk tidak diperangi. Apalagi pada kenyataannya, di antara korban yang meninggal akibat pengeboman-pengeboman tersebut sebagiannya adalah kaum muslimin. Maka sangat jelas bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar dan sangat jauh dari amalan jihad yang disyariatkan dalam Islam. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (Al-An’am: 151)

Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا فِيْ غَيْرِ كُنْهِهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang terikat perjanjian (dengan kaum muslimin) sebelum waktunya, maka Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  haramkan baginya surga.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Hadirin rohimakumulloh,

Akhirnya, marilah kita senantiasa menjaga diri-diri kita dari kemarahan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , dengan berhati-hati dalam memahami dan mengamalkan agama kita. Jalannya tidak lain adalah dengan kembali kepada para ulama, sehingga kita bisa memahami agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh manusia-manusia terbaik yang telah mempelajari agama ini secara langsung dari Rasulullah n, yaitu para sahabat Nabi Rodiallohu ‘Anhum.

Kita memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  agar memberikan hidayah-Nya kepada kita semuanya, juga kepada para pemimpin bangsa kita untuk berjalan di atas syariat-Nya. Kita memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  agar menjadikan negeri kita dan negeri seluruh kaum muslimin menjadi negeri yang aman dan tenteram serta diberi rahmat oleh-Nya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  adalah Rabb Yang Maha mengabulkan do’a.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَمِينَ

Sumber : http://asysyariah.com/bersyukur-di-hari-raya-iedul-fitri.html

 

Baca Juga :
KEUTAMAAN SAHABAT NABI SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM
 
Khutbah Pertama (Ditulis oleh :
Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.) إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا

Read more

MENDAHULUKAN KECINTAAN KEPADA ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA DAN ROSUL-NYA SHOLALLOHU ‘ALAIH WASSALLAM

Ditulis oleh : Al-Ustadz Saifudin
Zuhri Lc.)   الْحَمْدُ للهِ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَتِ وَالأَرْضِ وَلَهُ
الْحَمْدُ فِيْ الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ , وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِكَ لَهُ فِيْ الْمُلْكِ وَ
تَدْبِيْرِ , وَأَشْهَدُ

Perceraian dan Hukumnya
 
Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala,
shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad
ShalAllahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Khutbah Pertama: الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ اْلمَاءِ بَشَرًا
فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ
الَّذِيْ بَيَّنَ
Read more
Khutbah Jum’at ” Zina, Bahaya Dan Sebab-Sebabnya”
 
Oleh : Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Khutbah Pertama الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ
مِنْها وَمَا بَطَنَ وَحَذَّرَ مِنْ قُرْبَانِهَا وَالأَسْبَابِ
المُوْصِلَةِ إِلَيْهَا رَحْمةً بِعِبَادِهِ وَصِيَانَةً لَهُمْ عَمَا
يَضُرُّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ
Read more
BAHAYA SIHIR DAN PERDUKUNAN
 
(Ditulis oleh : Al-Ustadz Saifudin
Zuhri Lc.) الْحَمْدُ للهِ لَهُ وَاحِدِ الْقَهَّارِ الْعَزِيْزِ
الْغَفَّارِ , أَحْمَدُهُ يَتَجَدَّدُ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ ,
وَأشْكُرُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغَزَّرِ , وَأَسْأَلُهُ
الْمَوِيْدَ مِنْ فَضْلِهِ المِدْرَارِ
Read more
BERHIAS YANG SESUAI SYARIAT DAN YANG TIDAK
 
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْن
حَمْدًا طَيِّبًا كَثِيْرًخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا,
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِكَ لَهُ
وَسُبْحَانَهُ عَمَّا يَقُوْلُ الظَّالِمُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا,
وَأَشْهَدُ
Read more
Anjuran untuk Berbuat Ihsan
 
Ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin
Zuhri, Lc. Khutbah Pertama: Ma’asyiral muslimin rohimakumullah, Segala
puji bagi Allah Ta’ala yang mengetahui segala yang dilakukan dan yang
tersembunyi pada dada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar melainkan hanya
Allah Ta’ala semata. Saya juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad Sholallohu
‘Alaih Wassallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam
Read more
Kesalahpahaman terhadap Beberapa Hal Penting dalam Islam
 
Ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin
Zuhri, Lc. Khutbah pertama: إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ
Read more
Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya
 
(Ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin
Zuhri, Lc.)   Khutbah pertama الحَمْدُ لِلهِ ذِيْ الْفَضْلِ
وَالْإِنْعَامِ جَعَلَ الْحَجَّ إِلَى بَيْتِهِ أَحَدِ أَرْكَانُ
الْإِسْلاَمِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ
Read more
APAKAH SAMA ANTARA YANG BAIK DAN YANG BURUK?
 
(Ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin
Zuhri, Lc.) Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ
أَحَلَّ لَنَا الطَّيِّبَاتِ وَحَرَّمَ عَلَيْنَا الخَبَائِثِ وَأَسْبَغَ
عَلَيْنَا نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً، وَوَعَدَ بِالْمَزِيْدِ لِمَنْ
شَكَرَهُ، وَأَشْهَدُ
Read more

About Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>